
Tiap makhluk di fasenya tidak pernah benar-benar hidup dalam ruang waktu yang sama. Jika ditanya, di presisi waktu mana kita hidup hari ini, bahkan saat menanyakan pertanyaan tersebut, waktunya telah berlalu dan kita selalu tertinggal oleh waktu yang terus bergerak. Minggu ini, hari ini, di jam ini, di menit dan detik ini pula, kita seolah menempati ruang bernama waktu. Padahal kita hanyalah sukma yang suatu saat ‘kan dipanggil pulang padaNya, dimintai seluruh data mengenai penggunaan waktuNya.
Maka, benarlah perkataan seorang bijak bahwa “Hanya masa ini yang kita punya. Besok belum terencana dan direncana untuk turun ke muka dunia, hanya di ‘satuan waktu tak terukur’ inilah kita hidup dan mengembara, mencari arti dari titian masing-masing diri. Sisanya adalah jaga pikirnya, agar tak belok menakuti sesuatu yang sudah ditakarkan. Biar damai dan tenang seluruh anggota diri dalam menjalani kisah-kisah baru di tiap waktu baru pula.”
Cukup sudah berlomba dengan waktu, karena kau tak akan menjadi juara atau mendapat sorak suara. Tak ada yang lebih baik untuk kau jadikan tolok ukur kebaikan diri selain dirimu yang kemarin. Karena ketika kau berlomba dengan orang lain, akan selalu ada orang lain lagi yang bisa lebih baik daripada engkau ataupun orang yang kau ajak berlomba. Akankah kau mengajak orang itu untuk beradu kebaikan? Lalu bagaimana jika hadir orang baru lainnya yang ternyata jauh lebih baik daripada kalian? Masih sanggupkah kau mengajaknya untuk sekali lagi berlomba demi mengadu kebaikan? Bisa jadi dia lebih pintar daripada kau. Bisa jadi dia lebih berbakti pada orang tuanya daripada kau pada orang tuamu. Bisa jadi dia lebih beriman pada Rabbnya daripada kau pada Tuhanmu. Bisa jadi pula dia lebih rendah hati daripada kau yang sering tak sadar malah meninggikan diri. Maka sekali lagi, tak ada yang lebih baik untuk kau jadikan tolok ukur kebaikan diri selain dirimu yang kemarin. Karena mengejar standar orang lain hanya akan membuatmu lelah dan merasa tak memiliki progres ke arah yang lebih baik.
Musuhmu bukanlah geraknya waktu yang tak bersahabat padamu. Musuhmu bukanlah orang lain yang gigih dengan ambisi-ambisinya. Musuhmu bukanlah mereka yang kuat pendiriannya dalam mengejar mimpi-mimpinya. Musuhmu bukanlah sainganmu yang punya tujuan sama denganmu. Musuhmu adalah dirimu sendiri. Musuhmu adalah segala ketakutan yang kau miliki. Musuhmu adalah segala pesimis dan rendah diri yang senantiasa menggelayuti. Musuhmu adalah kemalasan yang tak habis-habisnya menggerogoti semangat produktifmu. Musuhmu adalah kau, kamu, dirimu.
Maka sebelum kau berambisi menaklukkan ganasnya dunia, sebelum kau berkata sumbang menantang dan berlomba dengan orang lain, terlebih dahulu taklukkanlah dirimu sendiri! Karena, di tiap titik pemberhentian, diri tak akan pernah menjadi diri yang kita kenal sebelumnya. Diri ini akan selalu punya input baru yang diterima, selalu ada pengetahuan baru yang dicerna, selalu berkembang pemahaman kita terhadap esensi hidup. Bahkan kita selalu menjadi pribadi baru di tiap waktu, bukan diri yang kemarin, tapi diri di masa dan titik ini selalu melampaui diri sebelumnya, entah lebih baik atau lebih buruk.
Tugas kita adalah memastikan diri untuk selalu bergerak ke arah yang lebih baik. Tak apa meski tak bisa berlari, paling tidak berjalanlah. Jika berjalan masih menyulitkanmu, maka lakukan dengan perlahan. Tak masalah jika itu kau lakukan dengan tertatih. Jika tertatih masih juga menyulitkanmu, maka lakukan dengan merangkak. Tak apa meski pelan. Tak apa meski butuh beribu purnama untuk menuju tujuanmu. Segala cara bisa kau lakukan menuju kebaikan asalkan kau tak berdiam diri di tempat.
Kalahkanlah diri yang sebelumnya malas, diri yang sebelumnya pemarah, diri yang sebelumnya lemah, diri yang sebelumnya mengecewakan, diri yang sebelumnya tak mau belajar, diri yang sebelumnya takut mencoba, diri yang sebelumnya selalu ingin menyerah lebih awal, dan diri yang sebelumnya selalu berpikir negatif. Karena wadah kita di diri sekarang ini, membutuhkan energi positif lebih untuk ditempati oleh jiwa kita yang positif pula. Bangun, bangkit dan kalahkah dirimu! Wadahmu menunggumu menjadi versimu yang lebih baik, lebih hebat, lebih kuat, lebih bijaksana, lebih pemaaf, lebih cinta, lebih kasih dan lebih indah dari versi sebelumnya.
Jangan lari lagi. Jangan pergi lari. Jangan menghindar lagi. Hadapi dengan gagah segala sifat buruk yang kau miliki. Yang terkadang tak mau kau akui bahwa kau memilikinya. Atau terkadang kau tekan agar ia tak muncul ke permukaan. Tugasmu bukanlah menyangkalnya. Tugasmu bukan untuk tak mengakuinya. Tugasmu adalah memperbaikinya. Menyelesaikannya agar tak muncul tunas-tunas lain yang juga merugikan.
Renungkan kembali apa-apa yang ada dalam diri. Renungkan kembali keburukan diri, yang tak sudi kau temui dari hidup orang lain, namun malah ada dalam diri sendiri. Renungkan sekali lagi di mana kau sekarang, apakah sudah dekat dengan tujuan yang kamu tetapkan? Atau justru masih jauh dari pandang? Duhai, merenunglah.
Bisakah kita menaklukkan diri?
Hmm… Bukankah semua orang juga belum tentu bisa menaklukkan dirinya sendiri? Yang saya tahu, semua orang sedang dalam pertarungannya masing-masing. Namun jika boleh saya memberi pendapat, mungkin kita bisa mulai dari hal sederhana ini; menyadari terlebih dulu bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki dari diri. Dengan menjadi rendah hati dan ikhlas, kita bisa tahu bahwa benar masih banyak lubang yang perlu ditambal. Masih banyak noda yang perlu dibersihkan. Tak usah terburu. Sekali lagi kita tak sedang berlomba dengan waktu. Kita juga tak perlu berlomba dengan orang lain. Kita hanya perlu fokus pada diri sendiri.
Biskah kita menaklukkan diri?
Tergantung. Itu semua tergantung pada seberapa keras kita berusaha dalam menaklukkan diri. Itu semua tergantung pada seberapa gigih semangat kita dalam memperbaiki diri. Tak ada yang bilang bahwa melawan diri sendiri itu mudah. Melawan diri sendiri itu penuh dengan tantangan. Namun ketika kita berhasil melakukannya, maka diri kita jugalah yang akan mendapatkan manfaatnya.
Perlahan-lahanlah untuk lebih di masa ini. Sedikit-sedikitlah untuk lebih di masa ini. Serta konsistenlah melakukannya agar hasilnya membekas dan berdampak benar pada versi-versimu selanjutnya. Perjalanannya masih panjang. Cahaya masih menunggumu di depan sana. Kabut asap yang sedang kau lalui akan berlalu dan yakinlah bahwa kau tak pernah sendiri. Di dalam dirimu terdapat dirimu yang selalu membersamaimu di ‘satuan waktu tak terukur’ ini.
Jadi, nikmati perjalanan diri ini dan taklukkan terus dirimu detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, hingga kagum dirimu pada dirimu sendiri. Tuhan pun ‘kan berkata saat diri ini kembali, “Kau telah menaklukkan wadah ini dari kesia-siaan“.
Leave a Reply