"Place for share, discuss and exchange ideas, motivation, tricks, experience and others view."

Perspective

Ibadahmu Untukmu!

Source: cdn.idntimes.com

Beberapa pekan ke belakang, penulis sempat mendapat masukan untuk membahas sesuatu yang berbeda dari perspektif dan sisi yang berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya, dan penulis memutuskan untuk membahas masalah yang erat kaitannya dengan keseharian kita sebagai umat beragama (apapun agamanya) menurut perspektif penulis sendiri yaitu berkenaan dengan ibadah dan keperilakuan-nya.

Menurut hemat penulis, ibadah adalah seluruh hal (aktivitas, niat, perbuatan) yang difokuskan kepada objek yang diibadahi (destinasi ibadah) dengan beragam tujuan sesuai dari subjek pengibadahnya, misalnya untuk menyenangkan, mendapatkan sesuatu (in return), atau menarik value dari objek yang diibadahi, sangat bervariasi tergantung subjeknya tadi. Objek ini pun bisa beragam, mulai dari kekasih, harta, teman, jabatan/kekuasaan atau Tuhan Yang Maha. Yup, mungkin defisini Tuhan di abad ini mengalami ameliorasi/semantic change (menurut penulis) yang berawal dari Suatu dan satu-satunya entitas tunggal yang berhak dijadikan objek ibadah bergeser menjadi sesuatu yang dominan di hati dan pikiran makhluk.

Dengan pandangan ini, mungkin kita menjadi mampu melihat ke dalam diri dengan pandangan yang lebih lebar dari sebelumnya, karena akan muncul potensi/posibilitas untuk menuhankan sesuatu yang bukan wadah seharusnya, seperti jabatan, harta, atau apapun sesuai motif yang hinggap di hati dan pikirannya makhluk (subjek pengibadah), juga sifatnya akan dinamis (berubah-ubah), hari ini “menuhankan” A, besoknya (karena beragam faktor) menjadi “B” dan seterusnya. Perubahan tadi seyogyanya merupakan proses pencarian seorang makhluk (subjek) kepada objek yang sejati, karena akhir dari sebuah pencarian adalah sebuah penemuan/pertemuan. Perubahan-perubahan ini sama halnya dengan kisah Ibrahim (dalam Islam) yang menguji banyak objek hingga akhirnya mencapai satu konklusi dalam pencariannya dan menuju kesejatian, sehingga selaras dengan salah satu surat 98:05 (ajaran Islam, memurnikan ibadahnya kepada objek yang sejati).

Objek-objek yang dijadikan abdi oleh subjek akan sirna jika dia memang bukan kesejatian, karena di ujungnya akan muncul ketergantungan (dependent) terhadap hal lainnya, hal ini juga yang dijadikan penulis sebagai metode mencari objek yang benar-benar benar untuk diibadahi, di-abdi, di-patuhi, di-tundukki, di-sembah dan di-eskatonkan (terakhir). Jika mengobjekkan harta (contohnya), ketika objeknya hilang, berkurang atau tidak berlaku lagi (diganti, usang, nilainya menurun, dan lainnya) maka pembaca sekalian bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada subjeknya. Sangat variatif bentuk pengujian untuk menemukan objek yang sejati tergantung perspektif dari subjeknya sendiri, serta menurut penulis janganlah lagi menyudut pandang tapi melingkar pandanglah, sehingga seluruhnya akan terlihat menjadi sebuah kesatuan terintegrasi.

Lalu, sebenarnya untuk apa ibadah itu? Apakah menguntungkan objek yang diibadahi? Apakah perlu ibadah itu? Semuanya berkaitan satu sama lain, karena tujuan utama dari ibadah adalah untuk menunjukkan seluruh perasaan terima kasih kita kepada objek/destinasi yang diibadahi, entah akhirnya akan ditempatkan di ujung yang buruk atau baik, itu bukan lagi menjadi urusan kita ketika sudah penuh diri-diri ini dengan rasa abdi yang sangat dalam. Sama halnya ketika kita memutuskan untuk belajar sepeda, disana hadir potensi untuk jatuh dan jatuh itu sakit, tapi kita mengambil resikonya dengan dividen (keuntungan) berhasil menaiki sepedanya dan memiliki banyak pengalaman dari potensi buruknya atau misalnya dari comprehensive view ketika mengabdi pada Tuhan (objek kesejatian) dengan tawaran surga dan neraka (di sebagian besar agama), sebenarnya sama seperti seorang Ibu yang menawarkan anak berusia 9-12 bulan sebuah hadiah dengan syarat anak tersebut harus mengambilnya dengan berjalan ke arah ibunya. Hal ini bermanfaat bagi anaknya, entah dia mendapat hadiahnya (baca: surga dan neraka) karena dia telah dan akan bisa berjalan (melalui banyak proses), itu pula yang dilakukan Tuhan yang Maha kepada makhluknya menurut penulis, karena hasil akhir hanya dorongan agar makhluk/subjek mengerti esensi proses serta dengan alasan yang sama, penulis bisa menarik kesimpulan bahwa ibadah pun tidak menguntungkan sama sekali bagi objek yang diibadahi, itu hanya metode, cara dan jalur yang ditempuh subjek untuk mendapatkan manfaat bagi dirinya sendiri.

Ibadah jelas diperlukan karena bermanfaat bagi subjek pengibadah, entah apapun hasil akhirnya, subjek akan menemukan hikmah/pengalaman/pembelajaran bagi dirinya saat menjalani ritual pengibadahan, menjadi lebih-lebih di semua sisinya. Yang jelas, kerangka acuan kita harus sama-sama dikembangkan untuk melihat lingkar pandang itu tadi, sehingga tidak menyudut di satu titik dan macet/stuck pikiran atau tindakan. Bentuk ibadah yang paling baik menurut penulis pribadi adalah ketika mewujud menjadi sebuah spirit (spiritual, semangat untuk berbuat dan bertindak) lebih baik bukan hanya gambar/potret ibadah dan berakhir disana (ritual). Ya, menurut penulis tanpa Al-Qur’an atau kitab suci apapun, sebagian besar dari kita tidak akan mencuri atau membunuh karena berlaku adab, norma dan tata krama sosial didalam keseharian kita, sehingga sebenarnya aspirasi, nilai dan energi kitab-kitab suci itu sudah ada didalam diri masing-masing, kitab-kitab tersebut seterusnya menjadi pengingat ketika “hafalan” (baca: nilai, energi, esensi, aspirasi) di kepala hilang (pen: jika sedang menghafal sesuatu lalu lupa, kita akan me-refer ke sumbernya).

Dan, pastinya, ibadahmu untukmu bukan untuk objek-nya, jika selama ini kita di titik mengibadahi (abdi, patuh, tunduk, menuruti, pasrah, menjatuhkan diri, dan lainnya) pada objek yang berusaha mengambil keuntungan dari kita, segera tinggalkan saja, karena yang sejati tak membutuhkan ibadahmu, hanya dirimu yang membutuhkan ibadahmu untuk kebermanfaatanmu!.

Leave a Reply