
Tak jarang dari diri merasakan masa naik dan turun. Ya, naik dan turun dalam semangat, naik dan turun dalam berharap, naik dan turun pada kondisi kesehatan. Banyak hal di hidup ini yang berpindah dari atas ke bawah, dari senang ke duka, dari bahagia ke sedih, dari baik ke buruk ataupun sebaliknya. Bahkan ketika suatu kebahagiaan baru saja kita rasakan, sepersekian detik kemudian cahaya kebahagiaan itu hilang, digantikan oleh sendu yang menggelayuti, menawarkan kesedihan dan air mata. Sampai-sampai ada perkataan yang muncul akibat hal ini, “Takut terlalu bahagia, soalnya biasanya kalau terlalu bahagia malah jadi muncul kesedihan setelahnya.” Well, saya tidak paham bagaimana penjelasan ilmiahnya, tapi jika dipikir-pikir lagi kalimat tersebut benar adanya. Ya karena hidup memang selalu begitu. Mustahil jika kita akan selamanya berada dalam suatu kondisi.
Memang, manusia itu seluruh perangkat kemanusiaannya didesain dinamis oleh Tuhan yang Maha, supaya dirinya sadar bahwa posisinya tak pernah berhenti dan bertahan; tak selamanya akan senang, tak selamanya pula akan sedih. Mereka (semua rasa dan nuansa) mengiringi juga bergantian berdatangan memberikan bekas pada diri, merobek emosi dan membenamkan kaki agar melangkah ke arah Ilahi, sumber paling hakiki untuk kembali.
Jika diumpamakan, hidup itu seperti menaiki roller coaster. Sebuah kereta panjang yang mengaduk-aduk hati dan pemikiran penumpangnya. Mereka akan dibuat menunggu dengan tegang saat kereta perlahan menanjak menuju puncak, menikmati pemandangan di atas sana saat sudah berada di titik tertinggi, lalu dalam sekejap mata mereka diajak jatuh dan berteriak. Bedanya adalah, penumpang roller coaster berteriak kegirangan saat kereta meluncur ke bawah dengan cepat, memicu pelepasan adrenalin mereka. Sedangkan dalam hidup, justru orang-orang merayakan ‘proses turunnya’ dengan kesedihan.
“Life’s too short to dwell on things. When you go through experiences that are bad, it’s a good thing. You learn from it – become a stronger person. Life is a roller coaster, and you don’t know what’s going to be thrown at you next, so all you can do is give it your best shot.” – Alesha Dixon
“Hidup itu terlalu singkat untuk ‘tinggal’ dengan hal-hal yang tidak layak. Saat kamu melalui pengalaman-pengalaman yang buruk, itu adalah hal yang bagus. Kamu bisa belajar darinya – menjadi sosok yang lebih kuat. Hidup itu adalah sebuah roller coaster, dan kamu tidak tahu apa yang akan ‘dilemparkan’ padamu selanjutnya, jadi yang bisa kamu lakukan adalah lakukan semua yang terbaik yang kamu bisa.” – Alesha Dixon.
Saat diri merasa di bawah dan sedang ada pada fase turun, seringkali pemikiran negatif tergores keras di pikiran bahwa Tuhan sedang membenci dan menghukum, dunia sedang memusuhi, seluruhnya seakan tak adil dan tak ada yang berjalan sesuai rencana. Lalu muncullah perasaan kalah, lelah, dan merasa payah. Padahal, satu-satunya cara agar tidak terjatuh dari ketinggian adalah berada di bawah (merendah). Karena saat posisi diri di bawah, dengan statusnya yang telah di bawah, tak akan ada satupun lainnya yang mampu menjatuhkannya lagi. Layaknya kalimat yang diucapkan orang-orang, “Merendahlah serendah-rendahnya hingga tak ada lagi yang bisa merendahkanmu.” Pun, ada hikmah lain saat kita merendah. Satu-satunya alasan diri bisa mengenali dan merenungi “siapa aku yang sebenarnya” adalah saat diri merasa tertekan dan ada di masa jatuh dengan semua kondisi. Untuk menggapai buah yang lebih manis, kakimu perlu pijakan yang kokoh, dan itu hanya ditemui saat dirimu jatuh dan berada di bawah.
Layaknya anak panah yang ditarik ke belakang, semata-mata bertujuan agar lesatannya jauh lebih kencang ke depan.
Mungkin, mungkin ini adalah sebuah perbandingan yang sama.
Masa turun bukan akhir, melainkan awal untuk beranjak melaju dan berlari lebih kencang. Kita perlu turun agar semua “gaya” dibuang “tanpa usaha,” seperti halnya saat berada di turunan sebuah jalan, tak perlu lagi untuk menginjak pedal gas, cukup ikuti jalurnya karena ada yang sedang “turun” ajarkan pada diri. Ketika semuanya lepas, kita bisa menekan pedal gas lebih kuat dan bisa lebih pasti menghadapi tanjakan yang ada di depan sana – semuanya hanya soal waktu dan keberpindahan naik turun.
Tak salah untuk ada di masa turun. Tak salah untuk merasa capek atau lelah. Tapi itu semua bukan alasan yang tepat untuk berhenti. Itu (lelah, capek, dsb.) hanya tanda bahwa diri telah berjuang dan saatnya istirahat sejenak di masa turun. Ambil jeda sebentar. Tarik napas dengan leluasa sambil meresapi dan merenungi baik-baik apa yang telah terjadi, apa yang sudah dimiliki oleh diri, apa yang datang, serta apa yang hilang. Meskipun sedang di masa “turun” bukan berarti semuanya menjadi buruk. Pasti ada hikmah di setiap fase hidup yang kita alami. Barangkali kita sempat luput terhadap hal-hal yang tak bisa dengan jelas kita lihat saat berada di atas. Barangkali ada sesuatu yang hanya bisa kita pelajari saat berada di bawah. Atau bahkan, dengan berada di bawah, kita bisa tahu siapa-siapa saja yang tak segan untuk terus berada di sisi kita memberi dukungan.
Lalu setelahnya, setelah kita siap, ketika diri sudah lebih memahami dan mengetahui, bergegaslah kembali untuk mencari apa yang diminta oleh nurani. Karena setelah TURUN akan selalu hadir masa NAIK.
Arungi saja hidup ini seperti apa adanya diri, tak perlu memaksa dan mengotot untuk selalu berada di atas. Semakin tinggi, semakin besar pula angina yang menerpa. Semakin naik, semakin besar pula risiko rasa sakit yang dirasa akibat proses jatuh tersebut. Maka nikmatilah jatuhmu sambil berusaha untuk mengubah keadaannya. Kita tak harus bersikeras untuk kembali ke puncak. Karena sekali lagi, barangkali proses turun ini ialah hadiah dari Tuhan untuk kita. Memberi jeda dan waktu untuk sejenak beristirahat dari rumitnya hidup. Bukankah cara terbaik untuk berterima kasih atas sebuah hadiah yang telah diberikan kepada kita adalah dengan memaknainya dengan sebaik-baiknya?
Dan jangan lupa bahwa semuanya hanya soal waktu. Waktu yang terbatas ini, di sini, marilah track diri untuk mencoba menjadi versi terbaik di tiap-tiap keadaan naik turun. Semakin banyak proses yang dijalani, maka akan semakin besar pula potensi untuk merasa bersyukur di semua kondisi; setidaknya merasa bersyukur karena diberi kesempatan untuk merasakan naik dan turun. Karena tak semua orang mendapatkan keistimewaan seperti ini. Lihatlah mereka-mereka yang sedang diberi istidraj – kondisi di mana manusia terlena karena Tuhan selalu memberi kenikmatan kepada mereka dan tidak pernah sekalipun memberinya kondisi ‘turun’, padahal sebelumnya Tuhan sedang menghukum mereka.
Suatu hari, saat semuanya berakhir, naik dan turun kita lah yang menjadikan siapa diri sekarang, sekokoh dan setangguh apa diri sekarang, semegah apa diri sekarang. Sooooo happy survive and keep being grateful. We’ll catch up at the end and tell ’bout our story.
Leave a Reply