"Place for share, discuss and exchange ideas, motivation, tricks, experience and others view."

Life Tips, Perspective

Membanding-bandingkan Kehidupan, Perbuatan Mereduksi Kebahagiaan yang Disengaja

“Comparison is the thief of joy.” Perbandingan adalah pencuri kebahagiaan. 

Sudah seberapa familiar kita dengan quote di atas? Rasanya sudah sering sekali membaca kutipan tersebut, entah itu di buku, di status facebook halaman motivasi, atau di laman internet lainnya. Bahkan satu kalimat sederhana itu sudah seperti tertanam kuat dalam alam bawah sadar kita.

Kita tahu bahwa perbuatan membanding-bandingkan -terutama tentang hidup- hanya akan membuat kita kehilangan kebahagiaan yang sedang kita genggam. Melihat berkah yang dimiliki oleh orang lain, terkadang membuat kita lupa bahwa kita juga memiliki berkah yang sama, dalam bentuk yang berbeda

Sedari kecil pun, sepertinya kita sudah sangat akrab dengan sikap membanding-bandingkan ini. Sebut saja kita yang tak puas dengan mainan yang kita miliki, lalu membandingkannya dengan mainan terbaru yang baru saja dibeli oleh teman sekelas. Lalu bentuk lainnya, kita protes karena uang saku kita berbeda dengan nominal yang diberikan untuk kakak. Atau yang paling traumatis, sikap orang tua yang terkadang tanpa sadar membandingkan kita dengan anak tetangga. 

“Kok kamu nggak kayak dia sih? Lihat, dia langganan jadi juara kelas. Kok kamu nggak bisa?”

Aduh, Ibu Bapak, tentu saja dia bisa seperti itu. Sehari-harinya hanya diisi dengan sekolah, les, belajar, repeat. Semua terfokus pada hal akademik. Lah aku kan nggak punya privilege itu. 

Beranjak remaja, perbuatan membanding-bandingkan ini juga tak kunjung hilang. Kini persaingannya tak lagi tentang nilai sekolah, tapi sudah merembet ke pergaulan sosial, gaya hidup, dan tren yang harus selalu diikuti. 

Bertambah usia jadi dewasa, perbandingannya malah makin pelik. 

“Wih, dia keterima di universitas TOP 3. Aku cuma di dalam kota aja.”

“Wah, dia udah ikut exchange. Aku kapan ya?”

“Itu adik tingkat kok sudah sidang skripsi aja? Bapak Ibu dospem, tolong jangan kabur-kabur lagi!”

“Dia hebat banget sih, baru seminggu wisuda udah dapet kerja. Aku di sini udah usaha keras banget, tapi belum ada panggilan interview yang masuk.”

“Profil LinkedIn-nya bikin iri. Punyaku cuma berisi sedikit pengalaman.”

“Kok dia bisa keren banget ya? Udah jadi manajer sekarang. Aku udah kerja tiga tahun masih gini-gini aja.”

“Temen-temenku udah pada nikah. Aku masih sibuk lembur aja. Jodohku mana ya? Apa dia belum lahir?”

Apa tidak lelah terus-terusan membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain? 

Kita selalu melihat kebahagiaan orang lain dan hal itu menjadi pereduksi untuk kebahagiaan yang kita miliki. Kita menganggap bahwa ketika orang lain berhasil melakukan sesuatu, sedangkan kita tidak bisa melakukan hal yang sama, maka kita menjadi sedih. Merasa bahwa kita gagal dan tertinggal.

Padahal kita tidak tahu pengorbanan apa yang sudah mereka berikan agar sampai di titik tersebut.

Padahal kita tidak tahu sekeras apa mereka berusaha hingga mimpi-mimpi itu berhasil terwujud.

Padahal kita tidak tahu bahwa memang jalan yang kita ambil berbeda dengan mereka, maka garis akhirnya pun tentu berbeda.

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengurangi perbuatan membanding-bandingkan tersebut? Yang tentu saja bertujuan untuk menjaga kebahagiaan yang tengah kita genggam.

Mengenal diri sendiri

Semuanya bersumber pada diri kita sendiri. Kita suka membandingkan karena kita tidak kenal betul dengan diri kita sendiri. Kita suka membandingkan karena kita tidak tahu apa yang kita inginkan dalam hidup.

Misalnya saja, kita punya teman yang sudah menjadi kepala cabang dealer motor di bidangnya. Lalu kita membandingkan dengan pencapaian diri kita, yang menjadi guru wali kelas. Dengan membandingkan, kita menjadi kehilangan rasa syukur atas rezeki dan berkah yang kita miliki. Padahal sudah sangat jelas, bukan? Kita dengan teman tersebut memiliki fokus dan tujuan yang berbeda, di bidang yang berbeda. Pun, kita juga harus paham bahwa tiap-tiap manusia memiliki talenta yang berbeda-beda. Maka bukanlah hal yang bijak untuk membandingkan.

Cobalah lebih mengenal diri sendiri. Tanyakan, apa yang ingin kita dapatkan dalam hidup? Dengan cara apa kita bisa menebar kebermanfaatan di bumi ini? Apa saja kelebihan dan kekurangan yang kita miliki? Dengan begitu, kita akan lebih jelas dalam mengarahkan kemudi.

Fokus pada diri sendiri

Kenapa kita suka membandingkan? Itu karena kita tidak fokus dengan apa yang tengah kita jalani dan apa yang ada di depan pandangan. Kita selalu menengok ke kiri dan kanan, begitu terkejut sampai-sampai berhenti berjalan. Mereka sudah berlari kencang, tapi kita malah berhenti tertahan. Ah, membanding-bandingkan nggak bikin kita ke mana-mana, kan?

Coba ubah fokus. Cobalah untuk lebih fokus pada diri sendiri. Fokus pada apa-apa yang kini tengah kita kerjakan. Boleh sesekali melirik, tapi jangan sampai bikin hilang kendali. Dengan begitu akan lebih banyak hal yang bisa kita selesaikan.

Memahami bahwa tiap orang punya waktunya masing-masing

Ada yang kaya di usia muda, ada yang menikah di usia muda, ada pula yang meninggal di usia muda. Semua punya waktunya masing-masing.

Ada teman yang sudah sukses di usia 20-an, ya mungkin memang sudah waktunya? Dia sudah bekerja keras sejak muda, juga giat berdoa. Maka Tuhan kabulkan semua permintaannya.

Kita sudah melakukan hal yang sama. Bekerja keras, mengusahakan semaksimal mungkin, dan tak putus merapal doa, tapi kenapa belum berhasil juga? Sabar, barangkali Tuhan masih senang melihat perjuangan dan mendengar permohonan kita. Percaya saja bahwa semua yang memang milik kita, pasti akan datang pada waktunya, dan tepat sesuai porsinya. Ada satu kutipan dari Umar bin Khattab yang mungkin bisa menjadi penenang untuk hal ini.

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”

Berdamai dengan diri sendiri

Hal yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah berdamai dengan diri sendiri. Menerima dengan lapang dada dan mensyukuri tentang apa-apa yang sudah dan tengah kita miliki. Berdamai bukan berarti menyerah, tapi lebih pada pemahaman bahwa untuk saat ini, semuanya memang harus berjalan sebagaimana mestinya. Kita tidak takluk pada keadaan, tapi meluaskan rasa nyaman. Sembari terus mengusahakan hal-hal yang kita impikan. Berdamai bukan semata-mata karena kalah, tapi memberikan ketenangan diri sendiri, agar tak terus dirongrong rasa kurang karena terus membandingkan.

Pada akhirnya, perbuatan membanding-bandingkan memang tak bisa begitu saja lepas dari hidup kita. Layaknya peribahasa yang ada, “rumput tetangga lebih hijau.” Kita cenderung selalu merasa bahwa kehidupan orang lain terlihat lebih seru dan bahagia, padahal kita tidak tahu yang sebenar-benarnya. Perbuatan membanding-bandingkan hanya akan membuat hilang kebahagiaan yang kita miliki. Hal yang bisa lakukan adalah perlahan-lahan meminimalisir kebiasaan membanding-bandingkan tersebut. Dengan begitu, kita akan hidup dengan lebih damai.

Leave a Reply